KabarMadina.com - Mandailing Natal. Politik tidak semata-mata berbicara tentang bagaimana memperoleh kekuasaan, tetapi juga tentang bagaimana kekuasaan itu diperjuangkan, diperoleh, dan nantinya dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pesan penting yang mengemuka dalam kegiatan bedah buku Penetapan Arena Pertarungan Calon Anggota DPRD dalam Perspektif Politik Islam, karya Agus Salam, yang juga menjabat sebagai Ketua Divisi Hukum dan Pengawasan KPU Kabupaten Mandailing Natal.
Bedah buku yang diselenggarakan KPU Kabupaten Mandailing Natal secara hybrid di Panyabungan, Kamis (13/8/2026), berlangsung dengan baik dan mendapat perhatian dari berbagai kalangan, mulai dari penyelenggara pemilu, unsur pemerintah daerah, partai politik, akademisi, mahasiswa hingga masyarakat umum. Buku tersebut hadir di tengah realitas politik elektoral yang semakin kompetitif, khususnya dalam kontestasi Pemilu DPRD Kabupaten/Kota dengan sistem proporsional terbuka. Dalam sistem tersebut, persaingan tidak hanya berlangsung antarpeserta pemilu, tetapi juga terjadi di antara calon dalam internal partai politik.
Menurut Agus Salam, karakter politik lokal membuat personalisasi politik menjadi sangat kuat. Seorang calon anggota DPRD tidak cukup hanya mengandalkan mesin politik partai, tetapi juga dituntut memiliki personal branding, modal sosial, jaringan politik serta basis pemilih yang loyal. Namun, tingginya kompetisi tersebut tidak boleh menggeser prinsip-prinsip etika dalam politik. “Para caleg tidak boleh menghalalkan segala cara untuk dapat duduk di kursi DPRD,” tegas Agus Salam.
Ketika Kompetisi Politik Berhadapan dengan Etika, Agus Salam melihat bahwa kompetisi politik yang semakin ketat juga membawa konsekuensi meningkatnya kebutuhan sumber daya, termasuk modal finansial. Di titik inilah politik menghadapi tantangan serius ketika kemenangan mulai diukur semata-mata berdasarkan kemampuan finansial.
Ia mengingatkan agar partai politik tidak mengabaikan kapasitas sumber daya manusia dalam proses pencalonan dengan lebih mengutamakan kekuatan finansial dibandingkan kapasitas intelektual dan kapabilitas politik.
Sebab, kualitas demokrasi pada akhirnya sangat ditentukan oleh kualitas orang-orang yang memperoleh mandat rakyat.
Agus juga menyoroti fenomena pragmatisme politik, termasuk politik uang, yang menurutnya perlu menjadi perhatian bersama. Jika praktik tersebut terus berkembang dan dianggap sebagai sesuatu yang biasa, maka persoalannya bukan lagi sekadar pelanggaran dalam sebuah kontestasi, tetapi menyentuh kualitas demokrasi dan kedaulatan rakyat. “Kalau hal ini kita biarkan dan terus berlanjut, maka yang dipertaruhkan sebetulnya bukan hanya kedaulatan rakyat tetapi juga masa depan bangsa dan negara ini,” ujarnya.
Perspektif Islam: Kekuasaan sebagai Amanah
Yang menarik dari buku Agus Salam adalah upayanya mempertemukan realitas politik praktis dengan perspektif politik Islam atau fiqh siyasah. Dalam pandangan Islam, politik tidak harus diposisikan sebagai sesuatu yang kotor. Politik justru dapat menjadi instrumen untuk menghadirkan kemanfaatan yang lebih luas apabila dijalankan dengan prinsip etika, amanah, keadilan dan kemaslahatan.
Agus Salam mengutip prinsip khoirunnas anfa'ahum linnas—sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya—sebagai salah satu spirit dalam melihat politik.
Karena itu, perebutan kursi legislatif seharusnya tidak hanya melahirkan pertanyaan siapa yang menang, tetapi juga bagaimana kemenangan tersebut diperoleh dan untuk kepentingan siapa kekuasaan itu digunakan. “Dalam pandangan politik Islam, politik itu sebetulnya sangat mulia apabila dijalankan dengan benar sesuai kaidah-kaidah etika politik Islam,” jelasnya.
Dalam konteks kontestasi politik, Agus juga mengingatkan pentingnya menjauhi risywah atau politik uang serta praktik kampanye hitam seperti ghibah, fitnah, dan namimah.
Menurutnya, kajian fiqh siyasah memiliki relevansi penting dalam kehidupan politik karena dapat menjadi salah satu rambu moral bagi para aktor politik maupun penyelenggara pemerintahan. Bukan Sekadar Buku tentang Cara Menang, Buku setebal 194 halaman tersebut tidak semata-mata dirancang sebagai panduan teknis memenangkan pemilu. Buku ini mencoba memberikan kerangka analitis bagi calon anggota DPRD Muslim, kader partai dan pemerhati politik lokal untuk memahami kompleksitas arena pertarungan legislatif di Indonesia. Agus Salam menjelaskan, terdapat tiga tujuan utama yang hendak dicapai melalui karya tersebut.
Pertama, memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai arena politik legislatif dengan menggabungkan analisis strategis, pemahaman kelembagaan dan refleksi etis.
Kedua, menjembatani kesenjangan antara idealisme etika politik Islam dengan realitas politik praktis. Prinsip-prinsip seperti amanah, keadilan dan kemaslahatan coba ditempatkan dalam konteks politik yang konkret.
Ketiga, memberikan perspektif dan inspirasi bagi lahirnya praktik politik yang lebih substantif dan berkeadaban, dengan menempatkan integritas, kompetensi dan kepentingan masyarakat sebagai orientasi utama.
Dengan demikian, buku ini mengajak pembaca tidak berhenti pada pertanyaan “bagaimana cara memenangkan pemilu”, tetapi bergerak lebih jauh kepada pertanyaan “untuk apa kemenangan itu diraih dan dengan cara apa kemenangan tersebut pantas diperjuangkan.”
Bedah Buku Menjadi Ruang Dialog Politik
Kegiatan bedah buku yang digelar KPU Madina menghadirkan Robby Effendi, Anggota KPU Provinsi Sumatera Utara, sebagai panelis serta Ahmad Faisal Da'u dari civitas akademika STAIN Madina. Forum tersebut berlangsung selama kurang lebih tiga jam dan diikuti penyelenggara pemilu dari berbagai kabupaten/kota, unsur pemerintah daerah, ketua partai politik tingkat Kabupaten Mandailing Natal, mahasiswa serta masyarakat umum.
Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadikan bedah buku bukan sekadar forum membicarakan sebuah karya, melainkan ruang dialog mengenai politik, demokrasi, etika dan masa depan kehidupan politik di tingkat lokal.
Ketua Divisi SDM, Sosialisasi, Pendidikan Pemilih dan Peningkatan Partisipasi Masyarakat KPU Madina, Ilu Prima Sagara, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya KPU Madina meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan pendidikan politik, baik bagi pemilih maupun peserta pemilu. “Di masa non-tahapan ini, selain melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan pemilu atau pemilihan sebelumnya dan persiapan untuk pemilu berikutnya, KPU Madina juga aktif melakukan peningkatan kapasitas SDM internal serta pendidikan politik bagi masyarakat,” ujar Ilu.
Politik yang Menang Tanpa Kehilangan Moral
Pada akhirnya, karya Agus Salam menawarkan satu refleksi penting: demokrasi tidak cukup hanya menghasilkan pemenang, tetapi juga harus melahirkan proses politik yang bermartabat. Kekuasaan yang diperoleh melalui mandat rakyat idealnya tidak dipisahkan dari nilai amanah, keadilan dan kemaslahatan.
Dalam perspektif tersebut, kemenangan politik bukanlah tujuan yang membenarkan segala cara. Sebaliknya, cara memperoleh kemenangan merupakan bagian penting dari pertanggungjawaban moral seorang calon pemimpin kepada rakyat, hukum, dan Tuhan.
Pesan inilah yang menjadi relevan dari karya Agus Salam di tengah dinamika politik Indonesia hari ini: politik boleh keras dalam kompetisi, tetapi tidak boleh kehilangan etika; perebutan kekuasaan boleh sengit, tetapi tidak boleh mengorbankan integritas, dan kemenangan boleh diraih, tetapi harus tetap berada dalam koridor hukum, moral dan kemaslahatan masyarakat.
(rul)

0 Comments